“Kumpul Kekuatan” di UNDIP Semarang menjadi ruang musik perlawanan yang menghidupkan ingatan September Hitam.
ARROSYID.OR.ID – Malam itu, Sabtu (20/9/2025), Auditorium Imam Bardjo Universitas Diponegoro menjadi semacam kawah perlawanan yang mendidih. Ratusan, bahkan ribuan orang, berdesakan di dalam ruangan.
Mereka datang bukan sekadar menonton konser, melainkan menyalakan ingatan dan menyulam keberanian. “Kumpul Kekuatan – September Hitam” lahir dari inisiasi Maring Institut, Aksi Kamisan Semarang, LBH Semarang, Bara Puan, bersama para seniman dan organisasi mahasiswa.
Di atas panggung, sejarah yang ditindas dipanggil kembali: pembantaian G30S 1965, luka Tanjung Priok 1984, darah Reformasi 1998, racun yang merenggut Munir 2004, jerit #ReformasiDikorupsi 2019, perlawanan Agustus 2025, hingga teriakan perempuan dan alam yang terus dipinggirkan.
Malam itu, dentum musik Kaukab menjadi pintu pembuka. Namun bara makin menyala ketika Lukni Maulana, penyair sekaligus mantan Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah, naik ke ke panggung.
Suaranya menyalak lirih, namun menghunjam seperti api yang membakar udara. Ia membacakan bait-bait puisinya:
“remaja bangkit
pemuda bergerak
mahasiswa bersuara
buruh berdiri
dan semua yang mencintai tanah ini
menolak tunduk
meski diinjak, meski dilindas
tetap tegak menantang kuasa”
Ruangan hening sejenak, lalu meledak. Kata-kata Lukni menjelma mantra perlawanan, mengikat ribuan telinga yang mendengarnya dalam satu ikrar: menolak tunduk.
Ia tidak hanya membaca puisi, tetapi menyalakan kembali api yang sering dicoba padamkan oleh lupa. Di titik itulah, panggung benar-benar menjelma altar perlawanan, tempat musik menjadi doa, dan puisi menjadi senjata.
Sukatani kemudian datang dengan letupan energi yang membakar, disusul Majelis Lidah Berduri yang memanggil bayangan Tan Malaka dari pusaran sejarah.
Mahranazih, Ijonk, hingga Women in Bloom melengkapi parade perlawanan dengan nada-nada yang mengguncang hati.
Di sela itu, Adetya Pramandira berdiri, suaranya tajam seperti sembilu: “Ketidakadilan harus dilawan!” Sorak-sorai penonton menggema, lebih nyaring daripada amplifier panggung.
Malam itu adalah pengingat: September selalu berdarah. Nama-nama Munir, Widji Thukul, Marsinah, hingga para aktivis reformasi yang hilang hadir bukan dengan tubuh, tetapi dengan ingatan yang dipelihara.
“Kumpul Kekuatan” lalu mematri pesan: “Jangan Ada Gamma yang Kedua”, “Semarang Berapi”, dan “Reset Indonesia.”
Dari panggung Imam Bardjo, bara itu dilepaskan ke udara. Bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk terus menyala, menembus lorong-lorong kota, dan menyalakan perlawanan di dada siapa saja yang berani berkata: menolak tunduk. []











