News

Belajar dari Prof Budi dan Jalan Sunyi Petani Bertauhid: Enzim dan Kesehatan Tubuh

Admin
×

Belajar dari Prof Budi dan Jalan Sunyi Petani Bertauhid: Enzim dan Kesehatan Tubuh

Sebarkan artikel ini
prof budi enzim
Prof. Achmad Budiharjo

Prof. Achmad Budiharjo yang akrab disapa Prof. Budi menanamkan filosofi hidup tentang enzim, tanah, dan tauhid.

ARROSYID.OR.ID – Siang itu kami berangkat dari ndalem Pondok Pesantren Al-Itqon Bugen, Kota Semarang menuju Kota Salatiga. Siang itu, udara agak panas ketika kami berlima Lukni Maulana, Beno Siang Pamungkas (Pimpinan Redaksi Zonasi.id), Ardhiansyah Harjunantio (Sindikat Media).

Juga Gus Arifin, Agung, dan Nazih Musyaffa, serta KH. Ubaidullah Shodaqoh (Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah) menuju sebuah rumah sederhana di Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga.

Rumah itu milik seorang tokoh yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal luas di kalangan pegiat pertanian organik dan pengobatan alami: Prof. Achmad Budiharjo, yang akrab disapa Prof. Budi.

Di ruang tamu yang juga menjadi laboratorium itu, aroma fermentasi lembut bercampur dengan wangi tanah basah.

Botol-botol kaca berisi cairan berwarna amber, hijau, dan bening tersusun di rak kayu dan meja. Begitu kami duduk, Prof. Budi menyapa dengan senyum meneduhkan, lalu dengan suara pelan ia memulai percakapan yang segera membawa kami pada dunia yang menyatukan iman, ilmu, dan bumi.

Menurut Prof. Budi, bertani bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi ibadah yang berakar dari tauhid.

“Kalau tanah subur, itu bukan karena kita pandai memupuk, tapi karena Allah masih menumbuhkan kehidupan di dalamnya,” ujarnya, Senin (6/10/2025).

Konsep ini kemudian dikenal sebagai Petani Bertauhid gerakan yang mengembalikan kesadaran manusia untuk bertani dengan keimanan, tidak serakah terhadap bumi, dan tidak melawan keseimbangan alam.

Dalam pandangannya, mikroba di dalam tanah adalah makhluk yang menjaga rahasia kehidupan. Ketika tanah dipenuhi bahan kimia, mikroba mati, dan tanah kehilangan ruhnya.

“Bumi ini hidup, tubuh kita juga hidup. Kalau mikroba di dalamnya mati, maka kehidupan ikut mati,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pertanian modern sering kali hanya mengejar hasil panen tanpa memahami keseimbangan ekosistem.

Bagi Prof. Budi, memperlakukan tanah sama halnya dengan memperlakukan tubuh: keduanya harus dijaga agar tetap hidup dengan cara yang lembut dan alami.

Saat kami asyik mendengarkan pandangannya, Prof. Budi berdiri dan mengajak kami untuk praktik membuat ramuan minuman khas.

“Kita bikin kopi enzim, ya,” ujarnya ringan.

Di meja sudah tersedia bubuk kopi, beberapa botol fermentasi, dan air panas. Dengan gerakan terukur, ia mencampur sesendok kopi dengan beberapa tetes cairan bening dari botol kecil.

“Ini bukan kopi biasa, tapi kopi enzim. Minuman yang hidup,” katanya sambil tersenyum.

Aroma kopi bercampur asam manis memenuhi ruangan. Rasanya unik: ada segar, asam, dan lembut di tenggorokan.

Lukni Maulana pengkaji Suluh Ar-Rosyid ini bertanya tentang “rumus pembuatan enzim” terlebih pembuatan minuman tersebut, tapi Prof. Budi menggeleng pelan.

“Tidak ada rumus. Yang ada itu takaran. Setiap bahan punya nadanya sendiri,” katanya sambil menyebut beberapa istilah Jawa yang membuat kami tertawa: sak genggem, sak jumput, sak cepuk, sak cawuk, sak jiwit.

Ia lalu menjelaskan maknanya, bahwa dalam tradisi Jawa, ukuran tidak hanya diukur dengan timbangan, tetapi dengan rasa dan niat.

“Alam itu tidak suka angka, tapi paham keseimbangan,” ujarnya. Bagi Prof. Budi, dalam membuat enzim maupun bertani, keharmonisan batin dan niat jauh lebih penting daripada presisi ilmiah.

Enzim, Kesehatan, dan Keberkahan

Dari percakapan itu, kami mulai memahami bahwa bagi Prof. Budi, enzim adalah energi kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa enzim bekerja menggerakkan mikroba, mempercepat reaksi biologis, serta menjaga harmoni tubuh dan alam.

Ia mencontohkan bahwa ketika mikroba dalam tanah hidup, tanaman tumbuh subur. Begitu juga tubuh manusia: jika mikroba dalam pencernaan aktif, maka tubuh akan sehat, bertenaga, dan mampu meregenerasi dirinya sendiri.

“Tubuh itu seperti tanah. Kalau mikroba di dalamnya hidup, maka kehidupan berjalan,” ujarnya.

Dari situlah ia mengembangkan berbagai ramuan alami berbasis fermentasi, di antaranya Biometa, campuran tempe, kecambah, nanas, molase, dan air kelapa yang berfungsi mengaktifkan mikroba tubuh dan memperbaiki pencernaan.

Ada pula Kurkuma Pro, yang terbuat dari kunyit, jahe, serai, dan madu untuk memperkuat imun, serta Biofid, perpaduan keduanya yang berfungsi menyeimbangkan detoksifikasi.

Sementara Nutrimori, hasil kombinasi daun kelor, spirulina, rosemary, dan seledri, digunakan untuk pemulihan pascakemoterapi, dan Madu Buah Bit untuk memperkaya oksigen darah serta nutrisi otak.

Dalam praktiknya, proses pembuatan enzim tak bisa dipisahkan dari spiritualitas. Prof. Budi menjelaskan bahwa fermentasi adalah bentuk kesabaran, sebab butuh waktu dan ketenangan agar mikroba bekerja dengan sempurna.

“Air kelapa, madu, dan niat yang bersih. Itu sudah cukup. Jangan buru-buru. Doakan agar enzim hidup,” katanya lembut.

Ia menekankan bahwa yang diolah bukan hanya bahan, tetapi juga getaran batin si pembuat. Dari situ kami mengerti mengapa ruangan fermentasi miliknya terasa hangat dan tenang, seolah setiap botol menyimpan doa.

Lukni Maulana kemudian menceritakan bahwa di Rumah Hijau ia juga mengembangkan fermentasi enzim, tetapi di dasar wadah muncul endapan putih seperti jamur.

“Itu Kombucha,” jawab Prof. Budi cepat sambil tersenyum.

“Bagus sekali! Itu tandanya enzimmu hidup. Kombucha adalah bakteri baik, kehidupan baru yang tumbuh dari kesabaranmu.”

Ia menambahkan bahwa lapisan-lapisan fermentasi memiliki makna simbolik: lapisan atas adalah niat, cairan tengah adalah proses, dan endapan bawah adalah hasil dari keikhlasan.

Pembicaraan kami tak hanya berhenti pada teori, karena Prof. Budi juga menunjukkan hasil-hasil fermentasinya yang digunakan untuk pengobatan alami.

Ia bercerita tentang pasien-pasien yang sembuh dari gangguan pencernaan, asam lambung, bahkan penyakit autoimun setelah rutin mengonsumsi enzim.

Namun, ia menegaskan bahwa proses penyembuhan sejati tidak hanya fisik, tetapi juga spiritual.

“Detoks itu bukan sekadar pembuangan racun tubuh. Itu juga pembersihan hati,” ujarnya.

Karena itu, setiap terapi selalu disertai pendampingan moral dan doa. Ia percaya bahwa tubuh akan lebih cepat pulih jika hati ikhlas dan pikiran jernih. Di sinilah, katanya, letak keseimbangan antara ilmu dan iman.

Selepas sesi itu, kami disuguhi camilan ringan potongan hasil bekas fermentasi yang ternyata masih lezat dan bergizi tinggi.

“Jangan dibuang, semua yang Allah tumbuhkan punya manfaat,” kata Prof. Budi sambil mengangkat potongan rimpang tanaman dari wadah kaca.

KH. Ubaidullah Shodaqoh, yang sedari tadi mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian menantang kami untuk mencoba meracik kopi enzim versi kami sendiri.

“Dua minggu dari sekarang, kalian harus datang lagi membawa hasilnya,” ujarnya disambut tawa kami semua.

Tantangan itu seolah menjadi penutup sekaligus awal dari perjalanan baru, belajar bukan hanya tentang fermentasi, tapi tentang cara memaknai kehidupan.

Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat, kami berpamitan. Di halaman rumah, Prof. Budi sempat berkata pelan, “Yang saya ajarkan bukan sekadar enzim atau pertanian, tapi cara menjaga kehidupan dengan bertauhid. Kalau tanah disuburkan tanpa doa, kalau tubuh diobati tanpa kesadaran, itu hanya separuh dari hidup.”

Kalimat itu terpatri dalam pikiran kami. Dalam perjalanan pulang, aroma kopi enzim masih tertinggal di lidah, bersama kesan mendalam tentang seorang ilmuwan yang memilih jalan sunyi: membaca alam dengan iman, meneliti kehidupan dengan doa, dan menanam kebaikan dengan tauhid. []