Malam puncak Hari Santri Nasional 2025 di Pekalongan jadi panggung spektakuler bagi santri, menampilkan seni, puisi, dan budaya pesantren.
ARROSYID.OR.ID – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Kota Pekalongan menggelar Pentas Seni Santri bertempat di Gedung Aswaja Kota Pekalongan sebagai puncak peringatan Hari Santri Nasional 2025.
Acara ini dihadiri Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah, KH Ubaidullah Shodaqoh, serta menghadirkan hiburan musik dari Band Kaukab asal Semarang.
Malam puncak HSN 2025 ini menampilkan beragam pentas seni santri yang memadukan tradisi dan inovasi.
Penampilan tersebut meliputi Grup Musik Sekar Wangi, Samproh Fatayat NU Kota Pekalongan, Parade Tilawah, dan Pentas Drama oleh Muslimat NU Kota Pekalongan.
Sebelum orasi budaya disampaikan, Band Kaukab membuka pentas dengan lagu andalannya “Aqoid Seket”, memeriahkan suasana Gedung Aswaja.
KH Ubaidullah Shodaqoh, yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen Semarang, menyampaikan orasi budaya yang menekankan pentingnya sastra dalam pendidikan pesantren.
Menurut Kiai Ubaid, sastra bukan sekadar keindahan kata, melainkan sarana untuk memahami hakikat ilmu dan kehidupan.
Dalam tradisi pesantren, sastra hidup seiring dengan pelajaran ilmu alat seperti nahwu, shorof, balaghah, mantiq, dan logika.
“Ilmu-ilmu tersebut tidak hanya sarana memahami teks agama, tetapi juga melatih ketepatan berpikir, kehalusan rasa, dan kecermatan bahasa. Ketiga hal ini menjadi dasar lahirnya karya sastra yang bermakna,” ujar Kiai Ubaid.
Ia menyayangkan sastra saat ini kurang diminati, terutama di sekolah umum, sehingga perlu digelorakan kembali oleh generasi muda.
Dalam rangka Hari Santri Nasional, Kiai Ubaid mendorong Lesbumi NU Kota Pekalongan untuk turun ke madrasah-madrasah, menumbuhkan kecintaan terhadap sastra sebagai bagian dari pengembangan bahasa dan budaya pesantren.
Tidak hanya menyampaikan orasi budaya, Kiai Ubaid juga membacakan puisi karya penyair Palestina, Mahmoud Darwish, berjudul Tunsa, Ka‘annaka Lam Takun, yang menggambarkan kefanaan manusia dan jejak makna yang ditinggalkan sepanjang kehidupan.
Penggalan puisi tersebut berbunyi:
تُنسَى كَأَنَّكَ لَمْ تَكُنْ،
تُنسَى كَمِصْرَعِ طَائِرٍ،
كَكَنِيسَةٍ مَهْجُورَةٍ،
تُنسَى كَحُبٍّ عَابِرٍ،
وَكَوَرْدَةٍ فِي الرِّيحِ،
وَكَوَرْدَةٍ فِي الثَّلْجِ تُنسَى.
هُنَاكَ مَنْ سَبَقَتْ خُطَاهُ خُطَايَ،
وَهُنَاكَ مَنْ نَثَرَ الْكَلَامَ عَلَى سَجِيَّتِهِ،
لِيَعْبُرَ فِي الْحِكَايَةِ،
أَوْ يُضِيءَ لِمَنْ سَيَأْتِي بَعْدَهُ أَثَرًا وَجَرَسًا.
engkau dilupakan seakan tak pernah ada,
seperti burung yang jatuh mati di udara,
seperti gereja yang ditinggal sunyi dalam debu waktu.
engkau dilupakan
seperti cinta yang hanya singgah sebentar,
seperti bunga yang hanyut oleh angin,
seperti bunga yang membeku di antara salju
engkau dilupakan.
ada yang langkahnya lebih dulu dari langkahku,
ada yang menaburkan kata-kata dengan tabiat jiwanya sendiri,
melintasi kisah,
atau menyalakan cahaya bagi yang akan datang setelahnya
meninggalkan gema, dan jejak yang bernyanyi. (red)
Kiai Ubaid juga membagikan pesan melalui akun Twitter pribadinya dengan mengutip wasiat Syekh Muhyiddin Ibn Arabi:
“«إِذَا عَظُمَ المَطْلُوبُ قَلَّ المُسَاعِدُ.»
فَعَلَيْكُمْ أَيُّهَا الطُّلَّابُ بِالتَّمْكِينِ وَالصَّبْرِ وَالاسْتِقَامَةِ فِي طَلَبِ العُلُومِ الدِّينِيَّةِ فِي المَعَاهِدِ السَّلَفِيَّةِ
Maka, wahai para penuntut ilmu, teguhkanlah diri kalian dengan keteguhan hati (tamkīn), kesabaran (ṣabr), dan keteguhan jalan (istiqāmah) dalam menuntut ilmu-ilmu agama di lembaga-lembaga salafiyyah (pesantren tradisional).
Menurut Ketua Lesbumi NU Kota Pekalongan, Najibul Mahbub, kegiatan Pentas Seni Santri merupakan puncak dari rangkaian acara HSN 2025 yang diadakan oleh PCNU Kota Pekalongan.
Acara ini tidak hanya untuk menampilkan bakat seni santri, tetapi juga memberikan apresiasi kepada para santri yang telah berprestasi dalam bidang kesenian dan budaya.
“Pentas Seni Santri menjadi ajang penghargaan bagi santri di Kota Pekalongan sekaligus bagian dari upaya melestarikan kesenian tradisional dan modern. Sebelumnya, telah digelar Pameran Turats, kaligrafi, foto ulama, HSN Ceria, Tadarus Budaya, Pembacaan Sejuta Sholawat, dan Gala Dinner. Semua rangkaian ini bertujuan menghidupkan budaya dan seni pesantren di tengah masyarakat,” ujar Mahbub.
Lesbumi Batik Kota Pekalongan turut mendukung kegiatan ini, khususnya dalam menampilkan kesenian tradisional yang mulai jarang dikenal oleh generasi muda, seperti terbang genjring, kuntulan, dan sintren.
Kegiatan ini sejalan dengan amanah KH Ubaidullah Shodaqoh dalam orasi budaya yang disampaikan pada malam Pentas Seni Santri.
Perkembangan seni santri di Pekalongan cukup signifikan. Dalam Pekan Madaris tingkat Jawa Tengah di Jepara, santri Pekalongan berhasil menyabet tujuh kejuaraan, termasuk juara tiga Lomba Puitisasi Putri.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa seni santri terus berkembang, dan kegiatan HSN 2025 menjadi momentum penting untuk menampilkan potensi tersebut di tingkat lokal maupun regional,” terang Mabub.
Selain pentas seni, Lesbumi Batik Kota Pekalongan juga menggelar Pameran Turats Ulama Pekalongan dan foto ulama sebagai rangkaian utama peringatan HSN 2025.
Mahbub menjelaskan bahwa pameran ini bertujuan menghidupkan kembali semangat keilmuan dan menghormati karya para ulama terdahulu.
“Dalam pameran ini kami menampilkan lebih dari 100 kitab karya ulama dari Pekalongan dan sekitarnya, manuskrip kuno, foto klasik ulama, serta karya seni kaligrafi santri dari UKM Kaligrafi UIN Gus Dur Pekalongan. Pameran ini menjadi sarana edukatif bagi santri dan masyarakat untuk mengenal warisan keilmuan Islam di Nusantara, khususnya di Pekalongan sebagai kota santri,” tutur Mahbub.
Pameran Turats tidak hanya menekankan aspek sejarah dan apresiasi seni, tetapi juga menumbuhkan kesadaran pentingnya ilmu dan karya para ulama.
Mahbub menambahkan, “Ketika menemukan tumpukan kertas lusuh, jangan langsung dianggap sampah. Bisa jadi itu adalah naskah berharga yang menyimpan ilmu dari generasi sebelumnya.”
Dengan gelaran Pentas Seni Santri dan Pameran Turats, Lesbumi NU Kota Pekalongan berhasil menyatukan seni, budaya, dan pendidikan pesantren dalam rangkaian Hari Santri Nasional 2025.
Kegiatan ini tidak hanya merayakan prestasi santri, tetapi juga menegaskan peran pesantren sebagai pusat pengembangan seni, budaya, dan keilmuan di Kota Pekalongan.
Najibul Mahbub menegaskan, kegiatan seperti ini akan terus dikembangkan ke depannya untuk mengangkat kembali kesenian tradisional yang mulai terlupakan, serta membangun kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya pesantren.
“Dengan demikian, Pekalongan sebagai kota santri akan terus memperkuat identitas budaya dan pendidikan Islamnya melalui inovasi dan apresiasi seni santri,” pungkasnya. []











