Artikel

Zodiak dalam Islam, Ibnu Arabi: 12 Zodiak sebagai Dua Belas Malaikat

Admin
×

Zodiak dalam Islam, Ibnu Arabi: 12 Zodiak sebagai Dua Belas Malaikat

Sebarkan artikel ini
Zodiak dalam Islam
Ilustrasi/Gemini

Zodiak sering dituduh bertentangan dengan Islam, tetapi Ibnu Arabi justru membacanya sebagai peta kosmik para malaikat dan perputaran zaman.

ARROSYID.OR.ID – Pembahasan mengenai zodiak dalam Islam sering kali memicu polemik. Di tengah masyarakat, zodiak lebih dikenal sebagai bagian dari astrologi populer yang mengaitkan tanggal lahir dengan karakter, nasib, jodoh, dan rezeki.

Praktik semacam ini jelas mendapat kritik keras dalam ajaran Islam karena beririsan dengan ramalan dan klaim mengetahui hal gaib.

Namun, dalam khazanah intelektual Islam terutama dalam tradisi tasawuf dan kosmologi metafisik istilah zodiak pernah dibahas secara mendalam, simbolik, dan filosofis oleh para ulama besar, salah satunya Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi.

Penting ditegaskan sejak awal bahwa pembahasan zodiak dalam Islam menurut Ibnu Arabi tidak berada dalam kerangka horoskop atau ramalan nasib, melainkan sebagai struktur kosmik yang berkaitan dengan malaikat, orbit langit, dan tatanan Ilahi dalam penciptaan alam semesta.

Dengan pemahaman ini, kita dapat membedakan secara tegas antara astrologi spekulatif dan kosmologi spiritual dalam Islam.

Islam menempatkan tauhid sebagai fondasi utama. Segala bentuk keyakinan bahwa bintang atau zodiak memiliki kekuasaan menentukan takdir manusia bertentangan dengan prinsip ini.

Rasulullah Saw bahkan memberi peringatan keras terhadap praktik nujum dan ramalan. Rasulullah Saw bersabada:

وَإِنَّ مِنَّا رِجَالاً يَأْتُونَ الْكُهَّانَ. قَالَ فَلاَ تَأْتِهِمْ

Di antara kami ada yang mendatangi para tukang ramal”. Rasulullah Saw berkata, “Jangan datang tukang ramal tersebut.” (HR. Muslim).

Namun demikian, Islam juga mengajarkan bahwa alam semesta berjalan dalam tatanan, hukum, dan keteraturan yang sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah Swt.

Al-Qur’an menyebut keberadaan al-burūj (orbit-orbit besar di langit) sebagaimana dalam QS. Al-Buruj ayat 1. Allah Swt berfirman:

وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ

Artinya: “Demi langit yang mempunyai gugusan bintang.” (QS. Al-Buruj: 1)

Ayat ini menjadi salah satu landasan bagi para ulama tasawuf untuk membahas kosmos sebagai manifestasi kehendak Ilahi, bukan sebagai entitas independen yang berkuasa atas manusia.

Dalam Al-Futuhat Al-Makkiyah, Ibnu Arabi menjelaskan bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw terlahir secara fisik, kepemimpinan beliau telah ada dalam bentuk gaib, berada dalam aturan dan tajalli Nama Allah Al-Bāṭin (Maha Batin). Kepemimpinan ini tidak tampak secara lahiriah, tetapi sudah mengatur realitas secara metafisik.

Setelah Rasulullah Saw lahir ke dunia, zaman kembali berputar seperti pada perputaran awal penciptaan. Kepemimpinan beliau kemudian termanifestasi dalam aturan Nama Allah Aẓ-Ẓāhir (Maha Lahir).

Pada momen kelahiran Nabi, menurut Ibnu Arabi, tujuh petala langit menurunkan kepada beliau segala perintah yang sebelumnya diwahyukan Allah kepada masing-masing langit tersebut. Setiap langit memiliki amanat khusus yang harus disampaikan.

Ibnu Arabi menegaskan bahwa peredaran masa kepemimpinan Rasulullah Saw dalam aturan Nama Aẓ-Ẓāhir berada di bawah hukum Zodiak Libra, dan hukum ini terus berlaku serta menyambung hingga kehidupan akhirat.

Di sinilah istilah zodiak muncul dalam kerangka kosmologi tasawuf, bukan sebagai alat ramalan.

Dua Belas Zodiak sebagai Dua Belas Malaikat

Menurut pandangan Ibnu Arabi, 12 zodiak adalah 12 malaikat yang ditugaskan Allah Swt untuk bertanggung jawab di Orbit Zodiak (Al-Falak Al-Burūj).

Orbit ini juga disebut sebagai Orbit Tak Berbintang, karena tidak terdapat satu pun bintang fisik yang dapat dijadikan patokan langsung bagi letak 12 zodiak tersebut.

Letak zodiak hanya dapat diperkirakan dengan melihat 12 gugusan bintang yang berada di Orbit Bintang-bintang Tetap di bawahnya. Dalam kitab ‘Uqlah al-Mustawfiz, Ibnu Arabi memerinci tugas, bentuk, dan sifat masing-masing malaikat zodiak sebagai berikut (disajikan utuh tanpa pengurangan):

1. Libra:
Malaikat pertama memiliki bentuk seperti “timbangan” (mīzān). Tabiat rumahnya, yaitu bagian yang menjadi posisinya pada Orbit Tak Berbintang, adalah panas basah. Allah Swt menjadikan aturannya berkuasa di Alam Penjadian (‘Ālam At-Takwīn) selama 6.000 tahun.

Kemudian aturan berpindah kepada yang lain hingga berakhir kembali kepadanya. Di tangan malaikat ini Allah menjadikan kunci penciptaan aḥwāl dan perubahan-perubahan (tagyīrāt).

2. Scorpio:
Malaikat kedua memiliki bentuk seperti “kalajengking” (‘aqrab). Tabiat rumah/posisinya adalah dingin basah.

Aturannya dijadikan berkuasa di Alam Penjadian selama 5.000 tahun setiap kali tiba masa peredarannya. Di tangannya Allah menjadikan penciptaan api.

3. Sagitarius:
Malaikat ketiga memiliki bentuk seperti “busur panah” (qaws). Tabiat rumah/posisinya panas kering. Aturannya berlaku di Alam Penjadian selama 4.000 tahun.

Ia adalah malaikat mulia yang di tangannya terdapat tali-tali kekang untuk jasad-jasad yang bercahaya (nurānī) maupun yang gelap (ẓulmānī). Di tangannya dijadikan kunci penciptaan tumbuhan.

4. Capricorn:
Malaikat keempat diciptakan Allah dalam bentuk “anak kambing” (jady). Tabiat rumah/posisinya dingin kering. Ia dijadikan berkuasa di Alam Penjadian selama 3.000 tahun. Di tangannya Allah menjadikan kunci penciptaan siang dan malam.

5. Aquarius:
Malaikat kelima diciptakan dalam bentuk “timba/tempat air” (dalw). Tabiatnya panas basah. Kekuasaannya berlaku selama 2.000 tahun. Di tangannya dijadikan kunci penciptaan ruh-ruh.

6. Pisces:
Malaikat keenam diciptakan dalam bentuk “ikan” (ḥūt). Tabiatnya dingin basah. Masa beredarnya selama 1.000 tahun. Di tangannya dijadikan kunci penciptaan hewan-hewan.

7. Aries:
Malaikat ketujuh diciptakan dalam bentuk “domba/biri-biri” (kabsy). Tabiatnya panas kering. Beredar selama 12.000 tahun. Di tangannya dijadikan kunci penciptaan aksiden-aksiden dan sifat-sifat.

8. Taurus:
Malaikat kedelapan diciptakan dalam bentuk “lembu jantan/banteng” (ṡawr). Tabiatnya dingin kering. Beredar selama 11.000 tahun. Di tangannya terdapat kunci penciptaan surga dan neraka.

9. Gemini:
Malaikat kesembilan diciptakan dalam bentuk “dua anak kembar” (taw’amayn). Tabiatnya panas dingin. Ia beredar selama 10.000 tahun. Di tangannya terdapat kunci penciptaan mineral-mineral.

10. Cancer:
Malaikat kesepuluh diciptakan dalam bentuk “kepiting” (saraṭān). Tabiatnya dingin basah. Beredar selama 9.000 tahun. Di tangannya terdapat kunci penciptaan dunia.

11. Leo:
Malaikat kesebelas diciptakan dalam bentuk “singa” (asad). Tabiatnya panas kering. Lama peredarannya 8.000 tahun. Di tangannya terletak kunci penciptaan akhirat.

12. Virgo:
Malaikat keduabelas diciptakan dalam bentuk “tangkai mayang” (sunbulah). Tabiatnya dingin kering. Beredar selama 7.000 tahun. Ia dikhususkan untuk penciptaan tubuh jasmani manusia. Dalam bahasa Arab zodiak ini juga dinamakan “al-‘ażrā’” yang berarti “gadis perawan”.

zodiak ibnu arabi

Siklus Zaman dalam Kosmologi Ibnu Arabi

Jika seluruh masa peredaran zodiak-zodiak dari Libra hingga Virgo dijumlahkan, maka totalnya mencapai 78.000 tahun. Inilah masa perputaran zaman yang pertama sejak awal penciptaan hingga tahun kelahiran Rasulullah Saw.

Menurut Ibnu Arabi, pada saat Nabi Muhammad Saw dilahirkan, zaman berputar kembali dari awal, dimulai lagi dari zodiak Libra untuk perputaran kedua.

Namun perputaran ini tidak lagi sama, karena telah berada dalam naungan kenabian, wahyu, dan rahmat bagi seluruh alam.

Pandangan Ibnu Arabi tentang zodiak dalam Islam bukanlah legitimasi astrologi populer, melainkan peta kosmik metafisik yang menggambarkan bagaimana Allah mengatur alam semesta melalui malaikat dan hukum-hukum-Nya. Zodiak di sini adalah bahasa simbolik, bukan alat ramalan.

Dengan memahami kerangka ini, umat Islam dapat bersikap adil: menolak ramalan nasib berbasis zodiak, namun tetap menghargai warisan intelektual tasawuf yang membaca kosmos sebagai ayat-ayat kauniyah. []