Kisah Abu Yazid al-Busthami dan sumur tua tentang pelajaran tawasul, kekuatan doa, dan pentingnya keyakinan kepada Allah.
ARROSYID.OR.ID – Suatu hari, Abu Yazid al-Busthami berhenti di sebuah sumur tua yang tampak sudah lama tak digunakan. Sumur itu hanya berupa lubang dalam tanpa tali dan timba. Airnya terlihat jauh di dasar, sulit dijangkau.
Saat itu ia merasa sangat haus. Ia memandang ke sekeliling, berharap menemukan alat untuk mengambil air, tetapi tak ada apa pun yang bisa dipakai.
Tak lama kemudian, datang sekelompok anak perempuan yang tampaknya kelelahan setelah bermain. Mereka mendekati sumur yang sama.
Abu Yazid memperhatikan dari kejauhan. Dalam hati ia bergumam, “Percuma, dek. Airnya sangat dalam.”
Anak-anak itu berdiri sejenak di tepi sumur. Mereka tampak diam, seolah memanjatkan sesuatu.
Tiba-tiba, air yang semula berada jauh di dasar sumur perlahan naik hingga meluap ke permukaan. Anak-anak itu pun dengan mudah meminum air tanpa perlu timba atau alat apa pun.
Abu Yazid menyaksikan peristiwa itu dengan penuh keheranan. Bagaimana mungkin anak-anak yang masih polos dapat membuat air sumur yang begitu dalam naik seketika? Ia yang dikenal sebagai sufi besar pun merasa bingung.
Ia lalu mendekati mereka dan bertanya, “Apa yang kalian baca tadi, kok airnya tiba-tiba naik?”
Salah satu dari mereka menjawab polos, diikuti teman-temannya, “Kami tadi hanya bertawasul, ‘Wahai sumur, naiklah air dengan keberkahan Syekh Abu Yazid al-Busthomi.’”
Mendengar itu, Abu Yazid terkejut. “Lah, aku ini Abu Yazid yang kalian tawasuli. Tapi tadi ketika aku di sini, airnya sama sekali tidak mau naik ke atas.”
Anak-anak itu kemudian menjawab dengan tenang:
طَاعَةُ الْبِئْرِ لَنَا إِنَّمَا هِيَ بِصِدْقِ اعْتِقَادِنَا فِيكَ الصَّلَاحَ، وَأَنْتَ لَا يَصِحُّ لَكَ أَنْ تَعْتَقِدَ فِي نَفْسِكَ أَنَّكَ صَالِحٌ
“Dikabulkannya doa berupa naiknya air sumur kepada kami tidak lain karena teguhnya keyakinan kami bahwa Anda adalah wali yang memiliki banyak kebaikan. Sedangkan engkau sendiri tidak boleh meyakini bahwa dirimu orang yang shalih.”
Jawaban itu membuat Abu Yazid terdiam. [Abdul Wahhab al-Sha’rani – Kitab Irsyadul al-Mughfilin]
Pesan:
Dari peristiwa tersebut, tersirat pelajaran tentang tawasul dan keyakinan. Dalam berdoa, seseorang dituntut memiliki kepercayaan yang kuat serta prasangka baik kepada Allah bahwa doa akan dikabulkan.
Kisah ini juga menegaskan bahwa tawasul dipraktikkan sebagai bentuk ikhtiar spiritual, dengan tetap meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Peran manusia hanyalah sebagai perantara, sementara keputusan akhir sepenuhnya berada dalam kuasa-Nya.

