Kolom

Pondok Horor PPBU Tambakberas

Admin
×

Pondok Horor PPBU Tambakberas

Sebarkan artikel ini
pondok horor ppbu tambakberas jombang
Pondok Horor Tambakberas, Jombang/Edited: AI

Oleh: Lukni Maulana
(Alumni PPBU Tambakberas Jombang)

ADA satu cerita di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang yang menurut saya menarik untuk dikenang kembali. Namanya “Pondok Horor.”

Dulu saya punya pengalaman dan beberapa kawan santri menempati salah satu lokal ruangan tersebut.

Ruangan tersebut jadi kandang ular piton dan tentunya beraktifitas yang lainnya. Acapkali, ketika mengantuk atau sedang bolos sekolah, memilih menempati Pondok Horor tersebut.

Kalau malam tiba, suasananya berbeda. Setiap Selasa malam rabu, kawasan tersebut digunakan untuk latihan Asmaul Haq, salah satu amalan yang dikenal dalam perguruan pencak silat Bunga Islam.

Terkadang ada santri yang diam-diam ikut latihan atau sekadar menyaksikan kegiatan tersebut. Kalau tidak mengikuti latihan Asmaul Haq, biasanya ada pula santri yang mengikuti perguruan pencak silat lain di luar kawasan, seperti IKSPI Kera Sakti maupun Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Aktivitas seperti itu menjadi bagian dari kehidupan para santri di kawasan yang pada masa itu belum seramai sekarang.

Kawasan timur sungai Tambakberas memang jauh berbeda dengan sekarang. Sebelum berkembang menjadi kawasan dengan banyak bangunan dan fasilitas pesantren, wilayah tersebut relatif sepi.

Sebagian lahannya masih berupa rerumputan dan tanah terbuka. Salah satu tujuan yang cukup dikenal di kawasan timur sungai kala itu adalah makam Mbah Hamid. Juga makam Mbah Usman yang merupakan kakek dari KH. Hasyim Asy’ari.

Bagi sebagian santri, bangunan tua yang berada di kawasan relatif sepi itu memang memiliki kesan berbeda. Cerita tentang hal-hal mistis kemudian berkembang dari mulut ke mulut dan membuat nama Pondok Horor semakin melekat.

Tetapi di balik kesan menyeramkan tersebut, ada kehidupan manusia yang berlangsung seperti biasa. Ada santri yang beraktivitas, bermain, berlatih, dan ada pula seseorang yang menjalani kehidupan berternak.

Salah satunya yang paling dikenal yakni nama Kang Muhaini. Menurut cerita yang berkembang di kalangan warga dan alumni, Kang Muhaini pernah menjadi santri KH Wahab Chasbullah.

Ia kemudian tinggal di kawasan tersebut dan bertahan hidup dengan menggembala serta memelihara domba. Ruangan yang ditempatinya digunakan untuk ternak domba.

Saya sendiri pernah berada di ruangan yang berdekatan dengan tempat Kang Muhaini memelihara domba tersebut.

Menurut cerita yang saya dengar, Kang Muhaini tinggal di kawasan itu hingga akhir hayatnya. Karena itu, bagi saya, kisah Pondok Horor sebenarnya tidak hanya tentang cerita mistis, tetapi juga tentang kehidupan seorang manusia yang pernah menjadi bagian dari sejarah kecil kawasan Tambakberas.

Pada masa itu, kawasan sekitar Pondok Horor juga masih berupa hamparan rumput. Para santri putra biasa bermain sepak bola di sana. Belum ada fasilitas olahraga seperti yang kita lihat sekarang.

Rumput dan lahan terbuka menjadi tempat bermain para santri. Kalau mengingat kondisi tersebut dan membandingkannya dengan Tambakberas hari ini, perubahan kawasan timur sungai terasa sangat besar.

Waktu terus berjalan. Tambakberas berkembang dan kebutuhan terhadap bangunan serta fasilitas pesantren semakin besar. Kawasan yang dahulu sepi mulai dipenuhi bangunan baru.

Pondok Horor yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari cerita, akhirnya tidak lagi dipertahankan.

Sebelum bangunan tua itu dirubuhkan menjadi bangunan baru, lokasi tersebut terlebih dahulu didoakan dan diruqyah. Prosesi itu disebut dilakukan sebagai bentuk ikhtiar sebelum bangunan dibongkar.

Lahan yang dahulu ditempati bangunan tua alias pondok horor itu kemudian berubah total. Kini, di sana berdiri Gedung Serbaguna (GSG) KH Hasbullah Said, sebuah bangunan besar yang digunakan untuk berbagai kegiatan dan juga menjadi salah satu fasilitas olahraga di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Perubahannya benar-benar kontras. Tempat yang dahulu dikenal dengan bangunan tua, suasana sepi, rerumputan, dan cerita-cerita mistis kini menjadi gedung megah yang ramai digunakan untuk berbagai kegiatan.

GSG KH Hasbullah Said juga telah menjadi tempat berlangsungnya berbagai acara yang menghadirkan tokoh-tokoh penting.

Di sinilah perubahan itu terasa begitu nyata. Tempat yang dahulu dikenal dengan nama Pondok Horor kini justru menjadi ruang yang digunakan untuk kegiatan besar dan dikunjungi tokoh-tokoh penting.

Namun, ada satu hal yang menarik. Pondok Horor sebenarnya tidak sepenuhnya hilang. Kalau kita masuk ke GSG KH Hasbullah Said dan melihat tiang-tiang kokoh yang menopang tribun gedung tersebut.

Bangunannya memang sudah tidak ada, tetapi jejak lokasinya masih hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.

Bagi saya, kisah Pondok Horor bukan sekadar cerita tentang tempat yang dianggap angker. Perubahan itu merupakan bagian dari perjalanan Tambakberas.

Sebuah kawasan yang terus tumbuh dan berubah mengikuti zaman, tetapi tetap menyimpan cerita masa lalu di antara bangunan-bangunan barunya.

Sebab sejarah pesantren tidak selalu tersimpan dalam buku atau prasasti. Kadang, ia justru hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah berada di sana. []