News

Kami Mendukung KH Musta’in Syafi’i: Pelaporan Diskusi Ilmiah Ini Mencederai Tradisi Nahdliyin

Admin
×

Kami Mendukung KH Musta’in Syafi’i: Pelaporan Diskusi Ilmiah Ini Mencederai Tradisi Nahdliyin

Sebarkan artikel ini
KH Musta’in Syafi’i
KH Musta’in Syafi’i

KAMI menyatakan dukungan kepada KH Musta’in Syafi’i dan menilai pelaporan terhadap beliau ke Bareskrim Polri atas pernyataan dalam sebuah forum diskusi ilmiah sebagai langkah yang keliru dan patut disesalkan.

Bagi kami, persoalan yang lahir dari ruang diskusi ilmiah semestinya terlebih dahulu dijawab dengan argumentasi ilmiah, tabayun, dan dialog, bukan dengan membawa perbedaan pandangan langsung ke ranah pidana.

Forum Serial Diskusi Muktamar ke-35 NU merupakan ruang untuk menyampaikan gagasan, kritik, dan pandangan mengenai perjalanan organisasi.

Dalam tradisi pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU), perbedaan pendapat bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru dari perbedaan itulah tradisi intelektual tumbuh.

Para kiai sejak dahulu terbiasa berdiskusi, berdebat, menguji argumentasi, dan melakukan otokritik melalui tradisi bahtsul masa’il. Karena itu, kritik terhadap gagasan organisasi tidak semestinya secara otomatis diperlakukan sebagai serangan terhadap organisasi.

Kami juga berpandangan bahwa pernyataan seorang ulama dalam forum ilmiah harus dilihat secara utuh, termasuk konteks, argumentasi, dan tujuan pembicaraannya.

Menilai sebuah pernyataan hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial sangat berisiko melahirkan kesalahpahaman. Apalagi jika potongan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menyeret seorang kiai sepuh ke persoalan hukum.

Kritik KH Musta’in Syafi’i mengenai persoalan organisasi, termasuk pembahasan tentang Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dan kekhawatiran terhadap politik transaksional, menurut saya patut ditempatkan sebagai bagian dari kepedulian terhadap masa depan NU.

Kritik dari seorang ulama yang memiliki pengalaman panjang di dunia pesantren tidak seharusnya buru-buru dianggap sebagai permusuhan.

Dalam tradisi Nahdliyin, mencintai organisasi juga berarti berani mengingatkan ketika melihat sesuatu yang dinilai perlu diperbaiki.

Karena itu, kami mendukung KH Musta’in Syafi’i. Dukungan ini bukan berarti kami menganggap semua pernyataan beliau tidak boleh dikritik.

Sebaliknya, kami justru meyakini bahwa setiap gagasan boleh diuji dan setiap kritik boleh dibantah. Tetapi jawabannya haruslah dengan kritik, argumentasi, dan dialog yang sehat.

Jangan sampai perbedaan pandangan di ruang ilmiah berubah menjadi perkara hukum hanya karena kita kehilangan kesediaan untuk berdiskusi.

Jika tradisi perbedaan pendapat di lingkungan NU mulai digantikan dengan budaya saling melaporkan, kita patut bertanya: ke mana arah tradisi intelektual pesantren yang selama ini kita banggakan?

NU membutuhkan ruang untuk berpikir, berdiskusi, berbeda pendapat, dan melakukan otokritik.

Mari kembalikan persoalan ini ke ruang dialog dan ilmiah. Hormati kiai, hormati tradisi pesantren, dan jangan matikan keberanian untuk melakukan otokritik.

Kami mendukung KH Musta’in Syafi’i karena saya percaya bahwa menjaga NU bukan berarti membungkam kritik, melainkan memastikan kritik dapat disampaikan dan dijawab dengan adab, ilmu, serta argumentasi. []

Lukni Maulana
[Pengasuh Suluh Arrosyid & Ketua Lesbumi PWNU Jateng periode 2018-2023]