Kolom

Sungai Tambakberas PPBU, Misteri Keris Ronggolawe dan Muktamar NU

Lukni Maulana
×

Sungai Tambakberas PPBU, Misteri Keris Ronggolawe dan Muktamar NU

Sebarkan artikel ini
sungai tambakberas muktamar nu dan ronggolawe
Sungai Tambakberas, PPBU, Jombang

Sungai Tambakberas menyimpan kisah gugurnya Ronggolawe, misteri Keris Kiai Megalamat, hingga pesan penting bagi Muktamar ke-35 NU di PPBU: jangan sampai perbedaan berubah menjadi pertarungan yang saling menjatuhkan.

BAGI para santri Bahrul Ulum, Sungai Tambakberas itu sudah seperti bagian dari urat nadi kehidupan sehari-hari. Di sebelah kiri sungai, ada sebuah jalan setapak yang pastinya sangat familier.

Jalan itulah menjadi bagian yang dilewati para santri saat berangkat sekolah, mulai dari yang mau menuju ke Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas (MMA) sampai yang berjalan lebih jauh ke arah Madrasah Aliyah Negeri (MAN).

Namun, di balik rutinitas harian yang tampak biasa itu, jalan setapak dan aliran sungai tersebut menyimpan misteri mistis yang sudah jadi obrolan turun-temurun.

Kalau kita bicara soal Sungai Tambakberas, disitulah tempat gugurnya Ronggolawe. Sungai yang melintasi area Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Sungai inilah yang membelah kompleks pesantren.

Jadi, kalau Anda berkunjung ke Pesantren Tambakberas dan melihat aliran air yang mengalir di sana, itulah lokasi yang diceritakan dalam sejarah dan tutur masyarakat.

Bayangkan saja, jauh sebelum pondok pesantren itu berdiri, sekitar tahun 1295 kawasan itu masih berupa hutan dan wilayah perairan yang sepi.

Di aliran sungai itulah pasukan Majapahit mengepung Ronggolawe. Di air sungai yang sama pula, kuda Ronggolawe terperosok, lalu terjadi duel maut sampai sang Adipati tewas dicekik Kebo Anabrang, dan Keris Kiai Megalamatnya terlepas lalu hilang di dasar lumpurnya.

Peristiwa tragis ini bermula dari intrik politik Mahapati yang menyulut Pemberontakan Ronggalawe terhadap Kerajaan Majapahit. Pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Nambi dan Kebo Anabrang mengejar dan mendesak pasukan Ronggolawe hingga pecah pertempuran sengit di Sungai Tambakberas ini.

Saat pertempuran makin panas, Ronggolawe yang menunggangi kuda hitamnya yang gagah berbulu legam, Gagak Rimang, terdesak sampai ke tengah sungai. Sialnya, arus sungai saat itu sedang deras dan dasarnya berlumpur. Kuda Ronggolawe terperosok lalu jatuh, membuat Ronggolawe ikut tercebur ke dalam air.

Melihat kesempatan itu, Kebo Anabrang langsung menyergap Ronggolawe. Terjadilah duel maut di dalam air.

Karena postur tubuh Kebo Anabrang yang besar dan kondisi air yang keruh, Ronggolawe kalah posisi. Kebo Anabrang yang mahir bertarung di air berhasil mengunci dan mencekik Ronggolawe di dalam arus sungai sampai sang Adipati mengembuskan napas terakhirnya.

Melihat keponakannya dibunuh dengan cara seperti itu, Lembu Sora yakni paman Ronggolawe yang sebenarnya berada di pihak Majapahit tidak tega dan langsung naik pitam.

Secara spontan, Lembu Sora menusuk Kebo Anabrang dari belakang hingga tewas di tempat yang sama.

Jadi, di sungai itu Sungai tambakberas, kedua panglima besar ini sama-sama gugur.

Setelah perang selesai, jenazah Ronggolawe memang dievakuasi dan dirawat dengan layak atas perintah Raja Raden Wijaya yang sangat menyesali kejadian ini.

Namun, ada satu hal yang luput dan menjadi misteri besar hingga sekarang: keberadaan senjata andalan Ronggolawe yakni Keris Kiai Megalamat.

Menurut cerita tutur, Ronggolawe saat itu membawa keris pusaka andalannya tersebut. Keris Kiai Megalamat ini diyakini merupakan salah satu keris tangguh, kokoh, dan berpamor dalam buatan meteorit pilihan.

Ketika Ronggolawe bergulat di dalam air dan mulai kehabisan napas, pegangannya melemah sehingga keris tersebut terlepas, jatuh, dan tenggelam ke dasar Sungai Tambakberas.

Kisah lenyapnya pusaka ini tumbuh subur dalam tradisi lisan. Sampai sekarang, sebagian percaya kalau keris itu masih ada di dasar sungai, tertimbun lumpur, atau secara mistis sudah muksa (hilang ke alam gaib) karena setia dan tidak mau ikut dengan pemilik yang baru.

Baru berabad-abad kemudian setelah peristiwa Majapahit itu, sekitar tahun 1800-an, Mbah Shihah atau KH. Abdus Salam mendirikan pesantren. Pesantren tersebut dikenal dengan nama Selawe, karena santrinya berjumlah 25 orang.

Saat ini, kita kenal sebagai Pesantren Bahrul Ulum. Jadi, aliran air di belakang pesantren itu memang menyimpan dua sejarah besar: kisah tragis runtuhnya ksatria Majapahit di masa lalu, dan sejarah berdirinya salah satu pesantren tertua di Jombang.

Lanjut ya tentang Sungai Tambakberas dan keris Ronggolawe.

Menurut kepercayaan, air adalah penghantar energi spiritual terbaik, sedangkan besi pusaka seperti keris adalah penyimpan daya magis yang kuat.

Ketika Kiai Megalamat milik Ronggolawe jatuh ke dasar sungai ratusan tahun lalu, benturan energi air dan besi meteorit itu dipercaya menciptakan aura mistis yang sangat pekat di sepanjang aliran sungai pesantren.

Karena tahu akan cerita ini, terkadang ada saja santri yang punya rasa penasaran dan punya ambisi ingin menyerap energinya. Santri tersebut nekat ingin mengambil wibawa dari keris Ronggolawe tersebut.

Uniknya, santri ini tidak meniru gaya tirakat ala Sunan Kalijaga yang berdiam diri di pinggir sungai. Dia memilih cara lain, yaitu dengan berziarah di Makam Mbah Utsman.

Kenapa memilih makam Mbah Utsman, tidak dapat dipungkiri Mbah Utsman yang mewarisi ilmu tasawuh gurunya yakni Mbah Sihah, beliau kuat dalam jalur laku riyadah, tarekat dan tasawuf.

Posisi makam memang sangat berdekatan dengan Sungai Tambakberas. Menurut pikiran santri, makam adalah tempat yang tenang untuk memfokuskan batin menarik energi dari sungai tanpa perlu basah-basahan.

Di dalam hatinya, dia juga berharap, siapa tahu melalui perantara karomah makam para wali tersebut, Keris Kiai Megalamat yang hilang secara misterius itu tiba-tiba bisa datang sendiri ke pangkuannya. Atau kalau tidak akan memiliki kekuatan atau mewarisi ilmunya Ronggolawe

Sampai di sini saja soal ini, kita beralih ke hal lain…yakni Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Nah, kalau kita tarik garis waktu ke masa sekarang, Sungai Tambakberas ini bukan lagi sekadar saksi bisu bentrokan berdarah ratusan tahun lalu.

Tambakberas juga menjadi tuan rumah bagi perhelatan akbar, yakni Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar pada 27–31 Agustus 2026 dengan tema besar “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”.

Kita semua tahu bahwa konstelasi forum permusyawaratan tertinggi NU ini sering kali panas. Bahkan diperkirakan Muktamar di Tambakberas akan lebih panas dan menegangkan dari Muktamar Cipasung.

Ribuan orang akan tumpah ruah di PPBU, utusan dari berbagai cabang berkumpul, adu gagasan, dan persaingan antar kontestan untuk memilih kepengurusan PBNU baru biasanya berjalan cukup sengit. Namun, ada satu pesan penting dari sejarah sungai Tambakberas ini yang harus selalu kita ingat bersama. Jangan sampai dinamika Muktamar ke-35 NU di Tambakberas ini justru berubah menjadi ajang pertarungan yang saling menjatuhkan.

Muktamar ini bukanlah panggung ulangan kisah tragis Ronggolawe dan Kebo Anabrang, di mana yang satu mencekik, yang satu menikam, dan ujung-ujungnya kedua ksatria besar itu sama-sama gugur membawa kerugian bagi semuanya.

Jam’iyah NU didirikan atas dasar ukhuwah dan keteduhan ilmu para ulama, bukan atas dasar ambisi kekuasaan yang liar seperti keris pusaka yang hilang di dasar lumpur.

Persaingan boleh saja ada, tetapi persaudaraan, ketertiban, dan kebersamaan harus tetap menjadi yang utama demi menjaga marwah organisasi.

Mari kita jalani forum tertinggi ini dengan hati yang sejuk, jernih, penuh berkah, dan membawa kemaslahatan bagi umat.

Selamat bermuktamar, Tambakberas muktamar gembira!

Lukni Maulana [Alumni PPBU Tambakberas dan Ketua Lesbumi PWNU Jawa Tengah periode 2018-2023]