Mimpi buruk berulang bisa menjadi tanda kegelisahan batin, Islam mengajarkan amalan sederhana agar tidur kembali menenangkan.
ARROSYID.OR.ID – Doa mimpi buruk menjadi amalan yang banyak dicari oleh umat Islam ketika tidur tidak lagi menjadi ruang istirahat, melainkan justru menghadirkan kegelisahan.
Mimpi buruk sering datang berulang, menimbulkan rasa takut, terbangun di tengah malam, bahkan menyisakan kecemasan hingga pagi hari.
Dalam tradisi Islam, mimpi tidak dipandang sekadar bunga tidur, melainkan bisa menjadi bisikan jiwa, gangguan setan, atau isyarat batin yang perlu disikapi dengan doa dan amalan tertentu agar ketenangan kembali hadir.
Dalam khazanah keilmuan Islam klasik, persoalan mimpi buruk telah dibahas oleh para ulama, salah satunya Syekh Ahmad bin Ali al-Buni dalam kitab Syamsul Ma’arif wa Latha’iful ‘Awarif.
Kitab ini dikenal luas sebagai rujukan amalan spiritual yang berfokus pada penguatan batin, perlindungan diri, dan ketenangan jiwa.
Al-Buni menyebutkan bahwa mimpi buruk yang terus-menerus hingga menyiksa jiwa dapat diatasi dengan amalan sederhana namun konsisten, terutama dilakukan sebelum tidur.
Menurut Syekh Ahmad al-Buni, seseorang yang sering dihantui mimpi buruk dianjurkan untuk membaca ta’awudz sebanyak tiga kali sebelum memejamkan mata.
Ta’awudz berfungsi sebagai perlindungan langsung kepada Allah dari gangguan setan yang kerap menjadi sebab munculnya mimpi menakutkan.
Amalan ini menjadi pintu awal untuk membersihkan ruang tidur secara spiritual, sekaligus menenangkan batin sebelum memasuki alam bawah sadar.
Berikut bacaan ta’awudz yang dianjurkan, lengkap dengan teks Arab, latin, dan artinya:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Audzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm
Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.”
Ta’awudz ini dibaca sebanyak tiga kali dengan penuh kesadaran, tidak terburu-buru, dan diiringi niat untuk memohon perlindungan Allah dari segala bentuk gangguan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Dalam perspektif tasawuf, kesadaran niat memiliki peran penting karena doa bukan sekadar lafaz, melainkan dialog batin antara hamba dan Tuhannya.
Setelah membaca ta’awudz, Syekh al-Buni menganjurkan untuk melanjutkan dengan membaca Ayat Kursi. Ayat Kursi dikenal sebagai ayat penjaga, ayat perlindungan, dan ayat yang memiliki kedudukan sangat agung dalam Al-Qur’an.
Banyak hadis dan riwayat ulama yang menjelaskan keutamaan Ayat Kursi dalam menjaga seseorang dari gangguan setan, terutama pada waktu malam.
Adapun Ayat Kursi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Dalam amalan ini, terdapat bagian khusus dari Ayat Kursi yang dianjurkan untuk diulang sebanyak tiga kali, yakni pada lafaz:
وَلَا يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Wa lā ya’ūdūhu ḥifẓuhumā wa huwal ‘aliyyul ‘aẓīm
Artinya: “Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi lagi Mahaagung“.
Pengulangan lafaz ini memiliki makna mendalam. Secara spiritual, bagian ayat tersebut menegaskan kekuasaan Allah yang mutlak dalam menjaga langit dan bumi, termasuk menjaga hamba-Nya dari gangguan yang tidak terlihat.
Dengan mengulanginya, seorang hamba seakan menanamkan keyakinan bahwa perlindungan Allah tidak pernah berat dan tidak pernah lalai.
Syekh Ahmad al-Buni menyebutkan bahwa jika amalan ini dilakukan secara rutin sebelum tidur, maka dengan izin Allah seseorang akan dijauhkan dari mimpi-mimpi buruk dan bahkan dianugerahi mimpi yang indah dan menenangkan.
Mimpi indah dalam hal ini bukan semata hiburan, tetapi kondisi batin yang damai, tidur yang nyenyak, serta bangun dengan perasaan ringan dan segar.
Dalam pandangan psikologi Islam, mimpi buruk sering muncul ketika hati gelisah, pikiran lelah, dan jiwa tidak mendapatkan ruang ketenangan.
Oleh karena itu, doa mimpi buruk bukan hanya berfungsi sebagai perlindungan metafisik, tetapi juga sebagai terapi spiritual yang menenangkan sistem batin manusia. Ketika doa dibaca dengan keyakinan, pikiran perlahan menjadi lebih tenang dan tubuh lebih siap untuk beristirahat.
Penting untuk dipahami bahwa amalan ini tidak berdiri sendiri. Menjaga adab sebelum tidur, seperti berwudu, memaafkan orang lain, tidak membawa kemarahan ke tempat tidur, serta mengingat Allah, akan memperkuat efektivitas doa.
Dalam Islam, tidur dipandang sebagai kematian kecil, sehingga membersihkan hati sebelum tidur menjadi bagian dari menjaga keselamatan jiwa.
Dengan mengamalkan doa mimpi buruk sebagaimana diajarkan dalam kitab Syamsul Ma’arif, umat Islam diajak untuk kembali menggantungkan ketenangan hidup kepada Allah.
Bukan hanya agar terhindar dari mimpi menakutkan, tetapi juga agar tidur menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya, menghadirkan ketenteraman, dan membuka pintu keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.[]











