ArtikelKolom

Kalimah Thayyibah dan Khabisah di Era Digital: Tafsir Sosial atas Surah Ibrahim 24–30

Redaksi Kasatmata
×

Kalimah Thayyibah dan Khabisah di Era Digital: Tafsir Sosial atas Surah Ibrahim 24–30

Sebarkan artikel ini
kalimah thayyibah
Kegiatan literasi Ar-Rosyid di area pertambakan di Ds. Surodari, Sayuang, Kab. Demak

Ayat-ayat dalam Surah Ibrahim mengajarkan pentingnya membedakan antara ujaran baik dan buruk, yang kini sangat relevan dalam etika bermedia sosial.

Oleh: Lukni Maulana
(Pengkaji Sosial-Ekonomi dan Transformasi Digital)

SAAT ini berhadapan langsung dengan krisis nilai, polarisasi sosial, dan kecemasan masa depan akibat perkembangan teknologi yang melaju tanpa arah moral yang pasti. Oleh karena itu kita perlu menengok akar-akar ajaran nilai dalam Al-Qur’an.

Seperti surah Ibrahim sebagai penawar kegelisahan zaman sebuah seruan luhur untuk mentadabburi bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim membangun peradaban berbasis tauhid, doa, dan keteguhan hati.

Surah Ibrahim ayat 24-30 menyuguhkan pelajaran penting tentang dua jenis kalimah: kalimah ṭayyibah (kata-kata yang baik) dan kalimah khabīṡah (kata-kata yang buruk).

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ ۝٢٤ تُؤْتِيْٓ اُكُلَهَا كُلَّ حِيْنٍ ۢ بِاِذْنِ رَبِّهَاۗ وَيَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ۝٢٥ وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيْثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيْثَةِ ࣙاجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْاَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ ۝٢٦ يُثَبِّتُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ وَيُضِلُّ اللّٰهُ الظّٰلِمِيْنَۗ وَيَفْعَلُ اللّٰهُ مَا يَشَاۤءُࣖ ۝٢٧ ۞ اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ بَدَّلُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ كُفْرًا وَّاَحَلُّوْا قَوْمَهُمْ دَارَ الْبَوَارِۙ ۝٢٨ جَهَنَّمَۚ يَصْلَوْنَهَاۗ وَبِئْسَ الْقَرَارُ ۝٢٩

Artinya: “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimah ṭayyibah? (Perumpamaannya) seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya (menjulang) ke langit. Dan menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran. (Adapun) perumpamaan kalimah khabīṡah seperti pohon yang buruk, akar-akarnya telah dicabut dari permukaan bumi, (dan) tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekufuran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. (yaitu neraka) Jahanam? Mereka masuk ke dalamnya. (Itulah) seburuk-buruknya tempat kediaman.”

Allah Swt menyamakan kalimah ṭayyibah dengan pohon yang kokoh, akarnya menghujam dalam dan cabangnya menjulang ke langit. Sebaliknya, kalimah khabīṡah diibaratkan seperti pohon yang tercabut dari tanah, tanpa kestabilan.

Makna dari ayat-ayat ini menjelaskan bagaimana tutur kata yang baik merupakan cerminan iman yang kokoh, sedangkan ucapan yang buruk adalah manifestasi dari keburukan batin dan ketidakberpijakan nilai tauhid.

Dalam kehidupan sosial, seseorang yang menjaga lisannya akan lebih mampu membangun hubungan sosial yang sehat, menghormati sesama, serta menebarkan ketenangan.

Konteks ayat ini sangat relevan dalam membentuk self-discipline (disiplin diri) di era digital. Setiap ujaran di media sosial, komentar di ruang digital, atau bahkan tautan yang dibagikan, kini memuat nilai: apakah ia bagian dari kalimah ṭayyibah atau justru kalimah khabīṡah.

Disiplin diri dalam bermedia digital adalah keharusan. Seorang Muslim yang hidup di era ini perlu menjadikan QS Ibrahim 24–30 sebagai salah satu prinsip dasar etika bermedsos: menghindari ujaran negatif, tidak menyebar informasi tanpa verifikasi, dan mempromosikan nilai-nilai kejujuran, kesantunan, serta keadilan sosial.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sangat kontekstual untuk era digital. “Berkata baik” hari ini tak hanya berarti berbicara langsung, tapi juga mencakup posting, komentar, caption, hingga pilihan emoji yang kita gunakan. Maka kalimah thayyibah hari ini bisa berarti konten digital yang membangun, dan kalimah khabitsah adalah segala bentuk konten yang merusak.

Kita berada di tengah arus informasi tanpa filter dan algoritma yang mempercepat viralitas konten negatif, tafsir ini menjadi penting sebagai pedoman etika digital. Dalam dunia ekonomi-sosial, khususnya platform daring dan ruang interaksi digital, ucapan bukan lagi hanya suara, tetapi kapital: bisa menciptakan nilai tambah (influence) atau sebaliknya, menjadi racun sosial (social toxicity).

Dalam tradisi budaya Nusantara, kata-kata diposisikan secara sakral. Petuah orang tua, pepatah leluhur, atau pantun dan tembang, semuanya mengandung kalimah ṭayyibah yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Budaya tutur menjadi penjaga nilai, etika, dan kearifan lokal. Namun kini, ketika budaya lisan dan tulisan digantikan oleh budaya digital, makna kata-kata mengalami pergeseran: menjadi lebih cepat, ringkas, dan sayangnya lebih sering tanpa kedalaman.

Kita hidup dalam budaya instan: komentar dua baris bisa memicu konflik berhari-hari; satu unggahan dapat mengubah nasib seseorang; dan sebaran informasi yang tak diverifikasi menjadi makanan harian warganet.

Maka ayat-ayat dalam Surah Ibrahim menjadi ajakan untuk kembali menakar nilai setiap kata, terlebih dalam budaya digital yang serba cepat dan reaktif.

Kalimah ṭayyibah digital, seperti konten edukatif, kolaboratif, atau berbasis nilai-nilai luhur, memberi dampak ekonomi positif: membuka peluang monetisasi etis, memperkuat ekosistem digital berbasis trust, hingga mendukung UMKM dan gerakan sosial.

Sebaliknya, kalimah khabīṡah dalam bentuk hoaks, ujaran kebencian, dan eksploitasi algoritma demi cuan semata, justru menjerumuskan masyarakat ke jurang ketidakpercayaan, konflik horizontal, dan budaya digital destruktif.

Maka disiplin diri hari ini bukan lagi hanya soal mengatur emosi dan nafsu, tetapi mengelola algoritma konsumsi dan distribusi informasi. Tauhid menjadi jangkar utama: bahwa segala ujaran digital pun harus berpijak pada nilai kebenaran, kejujuran, dan ketundukan pada Yang Maha Esa.

Menanam kalimah ṭayyibah berarti menghidupkan kembali tradisi berbahasa yang penuh empati, jujur, dan konstruktif.

Menebarkan kalimah ṭayyibah berarti aktif menciptakan narasi-narasi yang membangun, bukan menghancurkan.

Mewariskan kalimah ṭayyibah berarti membimbing generasi muda untuk tidak hanya pintar menggunakan gawai, tetapi juga bijak dalam berinteraksi. []