Kisah

Kisah Sahabat Nabi Terkaya: Tangisan Miliarder yang Takut Hartanya Menjauhkan dari Surga

Admin
×

Kisah Sahabat Nabi Terkaya: Tangisan Miliarder yang Takut Hartanya Menjauhkan dari Surga

Sebarkan artikel ini
kisah sahabat nabi
Ilustrasi

Mengapa seorang sahabat Nabi Muhammad Saw yang sangat kaya justru sering menangis karena hartanya sendiri?

ARROSYID.OR.ID – Kisah sahabat nabi Muhammad Saw selalu menghadirkan pelajaran hidup yang melampaui zaman, salah satunya datang dari sosok Abdurrahman bin ‘Auf.

Ia adalah sahabat Rasulullah Saw yang dikenal sebagai orang terkaya di antara para sahabat, namun justru sering menangis karena harta yang dimilikinya.

Kekayaan baginya bukan kebanggaan, melainkan amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

Para sahabat Nabi adalah generasi yang memahami betul bahwa iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan ketaatan total.

Apa pun yang diperintahkan Rasulullah Saw mereka yakini sebagai perintah Allah. Karena itu, kehidupan mereka selalu diwarnai kehati-hatian, terutama dalam urusan dunia yang berpotensi melalaikan akhirat.

Abdurrahman bin ‘Auf termasuk golongan Assabiqunal Awwalun, orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.

Ia masuk Islam melalui perantara Abu Bakar Ash-Shiddiq di rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sekitar tahun 614 M, saat usianya masih muda dan produktif.

Sejak awal, ia telah menanamkan dalam hatinya bahwa iman lebih berharga daripada harta, jabatan, maupun kenyamanan hidup.

Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin ‘Auf datang tanpa membawa harta. Namun dengan kejujuran, kecerdasan, dan etos kerja yang tinggi, ia kembali membangun kekayaannya melalui perdagangan.

Dalam waktu singkat, usahanya berkembang pesat hingga ia dikenal sebagai pengusaha besar yang hartanya melimpah. Meski demikian, kekayaan itu sama sekali tidak mengubah gaya hidupnya menjadi berlebihan.

Justru sebaliknya, Abdurrahman bin ‘Auf dikenal sebagai sahabat yang sangat dermawan dan takut kepada Allah.

Ia sering menangis ketika mengingat hartanya. Ketakutannya bukan karena miskin, melainkan karena khawatir harta itu akan membuat hisabnya di akhirat menjadi panjang.

Kekhawatiran ini bersumber dari sabda Rasulullah Saw yang menyebutkan bahwa orang kaya akan lebih lama dihisab karena banyaknya amanah yang dipikul.

Kekayaan yang Menjadi Ujian Iman

Pada suatu masa, Abdurrahman bin ‘Auf menyedekahkan separuh hartanya di hadapan Rasulullah Saw, yaitu sekitar empat ribu dinar.

Tidak lama berselang, ia kembali bersedekah sebanyak 40 ribu dinar, kemudian menyusul sedekah besar lainnya dengan jumlah yang sama.

Nilai tersebut, jika dikonversikan hari ini, mencapai miliaran rupiah. Namun baginya, semua itu hanyalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Dalam riwayat yang dicatat oleh Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah, disebutkan bahwa Abdurrahman bin ‘Auf juga menyedekahkan 500 kuda dan 500 unta untuk keperluan jihad di jalan Allah.

Selain itu, ia memerdekakan banyak budak sebagai wujud kepedulian sosial dan pengamalan nilai keadilan dalam Islam.

Ada satu kisah menarik yang menggambarkan bagaimana Abdurrahman bin ‘Auf bahkan pernah berharap menjadi miskin. Seusai Perang Tabuk, kurma-kurma yang tersisa di Madinah membusuk dan tidak bernilai jual.

Abdurrahman membeli kurma busuk itu dengan harga normal demi membantu para sahabat. Ia berharap hartanya berkurang.

Namun takdir Allah berkata lain. Datang utusan dari Yaman yang membutuhkan kurma busuk sebagai obat wabah penyakit, dan seluruh kurma itu dibeli dengan harga sepuluh kali lipat.

Peristiwa ini membuat Umar bin Khattab berkomentar dengan nada heran, seolah melihat Abdurrahman telah menghabiskan hartanya tanpa menyisakan apa pun untuk keluarga.

Rasulullah Saw pun bertanya langsung kepadanya, “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?

Dengan penuh keyakinan ia menjawab, “Aku meninggalkan bagi mereka janji Allah dan Rasul-Nya, berupa pahala dan balasan kebaikan.”

Jawaban ini mencerminkan kedalaman iman seorang sahabat Nabi. Abdurrahman bin ‘Auf memahami firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَمَآ أَنفَقْتُم مِّن شَىْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُۥ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

Artinya: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba: 39)

Meskipun ketika wafat ia meninggalkan harta yang sangat banyak emas yang harus dipotong dengan kapak, seribu unta, seratus kuda, dan tiga ribu domba seluruh kekayaan itu tidak menjadi bukti kecintaannya pada dunia.

Justru itu menjadi saksi betapa besar kontribusinya bagi umat. Bahkan jenazahnya dishalatkan oleh Utsman bin Affan dan dimakamkan di Baqi’, di usia sekitar 75 tahun.

Kisah Abdurrahman bin ‘Auf mengajarkan bahwa Islam tidak melarang kekayaan, tetapi menuntut tanggung jawab moral yang besar di baliknya.

Harta bukan tujuan, melainkan alat untuk beribadah dan menebar manfaat. Dalam setiap rezeki yang kita miliki, ada hak orang lain yang wajib ditunaikan.

Kisah sahabat Nabi ini menegaskan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya harta, melainkan pada ketenangan hati dan kedermawanan jiwa.

Dari Abdurrahman bin ‘Auf, kita belajar bahwa jalan menuju surga tidak dihalangi oleh harta, selama harta itu selalu berjalan di jalan Allah Swt. []