Kolom

Krisis Ekologi dan Gagalnya Amanah Kekhalifahan Manusia

Admin
×

Krisis Ekologi dan Gagalnya Amanah Kekhalifahan Manusia

Sebarkan artikel ini
kerusakan lingkungan kh ubaidullah shodaqoh
KH Ubaidullah Shodaqoh

Ketika bumi terluka oleh tangan manusia sendiri, barangkali yang rusak bukan hanya alam, tetapi juga cara kita memahami amanah sebagai khalifah.

Oleh: KH Ubaidullah Shodaqoh
(Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)

KRISIS ekologi dan ancaman kelangkaan pangan global yang kini kita hadapi bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari cara pandang manusia terhadap alam yang keliru sejak lama.

Alam diperlakukan bukan sebagai amanah, melainkan sebagai objek yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Padahal, dalam pandangan Al-Qur’an, relasi manusia dengan bumi adalah relasi tanggung jawab, bukan relasi penguasaan mutlak.

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi. Status ini sering dipahami secara dangkal sebagai legitimasi untuk menguasai dan memanfaatkan alam sesuka hati.

Padahal, sebelum menjalankan peran kekhalifahan itu, Nabi Adam terlebih dahulu ditempatkan di surga. Menariknya, sebagian ulama menafsirkan bahwa surga yang dimaksud bukanlah Jannah akhirat, melainkan gambaran kondisi bumi yang ideal: subur, asri, penuh tanaman, dan makmur.

Secara bahasa, jannah berarti taman atau kebun. Dari sini kita dapat memahami bahwa prototipe kepemimpinan manusia di bumi adalah kepemimpinan yang meneladani kondisi alam yang terjaga dan seimbang.

Ketika Nabi Adam diturunkan ke bumi, ia tidak sekadar diberi mandat untuk beribadah dalam pengertian ritual, tetapi juga diberi tanggung jawab imarotul ardh memakmurkan bumi. Inilah tugas besar yang diwariskan kepada seluruh anak cucu Adam hingga akhir zaman.

Keseimbangan alam bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan yang harus dijaga. Kerusakan lingkungan bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan kegagalan moral dalam menjalankan amanah kekhalifahan.

Pertanyaan klasik kemudian muncul: mengapa manusia yang dipilih sebagai khalifah, bukan malaikat yang telah menyembah Allah selama ratusan bahkan ribuan tahun?

Jawabannya terletak pada kelebihan manusia berupa akal dan ilmu. Al-Qur’an menyebut, “wa ‘allama Adama al-asma’a kullaha” Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruh benda.

Ini menegaskan bahwa manusia dibekali kapasitas intelektual untuk memahami, mengelola, dan menimbang akibat dari setiap tindakannya. Dengan akal dan ilmu itulah manusia layak memimpin bumi.

Namun, kelebihan ini justru sering menjadi pintu petaka. Banyak manusia yang kemudian merasa menjadi pemilik mutlak bumi dan seisinya.

Atas nama pembangunan dan kemajuan, eksploitasi sumber daya alam dilakukan tanpa kendali. Padahal, Islam tidak pernah melarang manusia mengambil hasil bumi.

Menambang, mengelola hutan, atau mengambil energi adalah hal yang dibolehkan, selama dilakukan secara terukur dan tidak berlebihan. Ketika keserakahan mengambil alih, keberlanjutan ekosistem dikorbankan, dan bencana pun menjadi konsekuensi yang tak terelakkan.

Kerusakan ekologis tidak mengenal batas sosial atau moral. Dampaknya bersifat kolektif. Bumi ini satu kesatuan.

Ketika satu bagian rusak, bagian lain ikut menanggung akibatnya. Orang baik, orang alim, bahkan mereka yang tidak terlibat langsung dalam eksploitasi pun tetap merasakan dampaknya.

Di sinilah kita harus menyadari bahwa menjaga bumi bukan urusan segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

Kesadaran ini juga menuntut kita untuk tidak merasa memiliki hak tunggal atas bumi. Hewan dan tumbuhan adalah bagian dari sistem kehidupan yang telah Allah atur.

Burung tidak memiliki sawah, tidak menanam padi, tetapi setiap sore pulang dalam keadaan kenyang. Rezeki setiap makhluk telah dijamin.

Masalah muncul ketika manusia merusak tatanan itu, menghalangi hak makhluk lain demi kepentingannya sendiri.

Ekosistem bekerja dalam rantai yang saling terkait. Seekor hewan yang dianggap mengganggu bisa jadi memiliki peran penting bagi keseimbangan alam. Ular, misalnya, berfungsi mengendalikan populasi tikus. Jika semuanya dibasmi, maka hama akan merajalela dan merusak tanaman petani.

Islam mengajarkan kita untuk tidak bertindak semena-mena terhadap makhluk hidup, karena setiap ciptaan memiliki fungsi dalam keteraturan semesta.

Pada akhirnya, menjaga alam adalah bagian dari tauhid itu sendiri. Ia bukan sekadar kewajiban moral atau agenda aktivisme lingkungan, melainkan bentuk penghambaan kepada Allah.

Sebagai khalifah, manusia tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban atas shalat dan puasanya, tetapi juga atas bagaimana ia memperlakukan bumi yang dititipkan kepadanya.

Dari kesadaran inilah semestinya lahir etika ekologis yang berakar pada iman etika yang menempatkan manusia bukan sebagai penguasa yang rakus, tetapi sebagai penjaga yang bertanggung jawab. [Disarikan dari kanal YouTube MAJT TV]