Artikel

Mengenal Sifat Al-Salfa: Ciri, Arti, dan Cara Agar Tidak Menjadi Wanita yang Dilaknat

Admin
×

Mengenal Sifat Al-Salfa: Ciri, Arti, dan Cara Agar Tidak Menjadi Wanita yang Dilaknat

Sebarkan artikel ini
wanita al-salfa
Ilustrasi

Pernahkah kamu mendengar istilah perempuan al-salfa? Dalam Islam, istilah ini bukan sekadar nama, tapi peringatan tentang sifat yang bisa menggelincirkan seorang wanita dari kemuliaan akhlak.

ARROSYID.OR.ID – Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “wanita salehah” sering kita dengar sebagai sosok perempuan ideal dalam pandangan Islam lembut tutur katanya, menjaga kehormatan, dan menebar ketenangan di sekitarnya.

Namun di sisi lain, Islam juga mengenal sifat kebalikan dari itu, yaitu sifat al-salfa. Istilah ini jarang dibahas secara terbuka, tetapi sering disebut dalam kajian akhlak sebagai simbol sifat perempuan yang buruk akhlaknya, keras hati, dan menentang kebaikan.

Memahami makna al-salfa menjadi penting agar setiap muslimah bisa mawas diri dan memperbaiki akhlak, sehingga tidak tergelincir dalam sifat-sifat yang dibenci Allah.

Lantas, apa sebenarnya arti al-salfa? Bagaimana ciri-cirinya, dan bagaimana cara menjaga diri agar tidak menjadi perempuan dengan sifat demikian?

Pengertian atau Arti Al-Salfa

Secara bahasa, al-salfa berasal dari kata Arab “سَلْفَة” (salfa), yang berarti “yang telah lalu” atau “yang mendahului”.

Namun dalam konteks akhlak Islam, istilah perempuan al-salfa digunakan secara kiasan untuk menggambarkan wanita yang telah kehilangan rasa malu dan kepekaan terhadap nilai-nilai moral serta agama.

Sifat al-salfa sering dikaitkan dengan perempuan yang menentang suaminya, berkata kasar, tidak bersyukur atas kebaikan, serta mengabaikan kehormatan dirinya.

Dalam literatur klasik tasawuf dan tafsir, istilah ini juga dekat dengan penggambaran nisa’ ghafilat perempuan yang lalai dari zikir dan tidak memiliki rasa takut kepada Allah.

Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan tentang golongan wanita yang termasuk dalam sifat semacam ini:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Wahai para wanita, bersedekahlah! Karena aku melihat kalian lebih banyak menjadi penghuni neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika para sahabat perempuan bertanya mengapa demikian, Rasulullah ﷺ menjawab:

لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ

Karena kalian banyak melaknat dan tidak bersyukur kepada suami.” (HR. Bukhari)

Sifat al-salfa dalam hal ini dapat dipahami sebagai bentuk perilaku yang menolak kebaikan, suka mencela, dan tidak menghargai peran orang lain terutama suami atau keluarganya sendiri.

Dalam pandangan tasawuf; Imam al-Qusyairi dalam Risalah al-Qusyairiyyah menjelaskan: “Al-saffā adalah kejernihan hati dari segala sesuatu selain Allah.”

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam al-Hikam berkata: “Jika hatimu jernih, maka cahaya kebenaran akan memantul di dalamnya sebagaimana cahaya memantul di air yang bening.”

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut: “Hakikat kejernihan (ash-shafā’) adalah hati yang tidak terkotori oleh cinta dunia dan hawa nafsu.”

Ciri dan Sifat Perempuan Al-Salfa

Agar bisa mengenali sifat al-salfa, penting bagi kita untuk mengetahui tanda-tanda yang sering muncul. Dalam pandangan para ulama dan tokoh Islam klasik, ada beberapa ciri utama dari perempuan yang disebut al-salfa:

a. Tidak Bersyukur dan Suka Mengeluh

Ciri paling menonjol dari wanita al-salfa adalah tidak pandai bersyukur atas nikmat Allah dan atas kebaikan orang lain. Ia mudah mengeluh, merasa kurang, dan membandingkan dirinya dengan orang lain.

Padahal Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

b. Suka Menghina dan Berkata Kasar

Perempuan al-salfa sering berbicara tanpa adab mudah merendahkan, menghina, dan mencaci. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perempuan yang suka menyakiti dengan kata-kata termasuk dalam golongan yang kehilangan kemuliaan akhlak.

c. Tidak Patuh dan Suka Membantah

Salah satu ciri yang membuat perempuan tergolong al-salfa adalah menolak nasihat, menentang suami, atau membantah kebenaran dengan kesombongan.

Allah Swt menegaskan dalam Al-Qur’an:

فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا

Jika mereka telah menaati kamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS. An-Nisa’: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada suami dalam kebaikan adalah bentuk menjaga kehormatan dan harmoni rumah tangga.

d. Sombong dan Merasa Paling Benar

Sifat sombong sering kali menjadi akar dari sifat al-salfa. Ia menolak kebenaran karena gengsi dan memandang rendah orang lain. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji zarrah.” (HR. Muslim)

e. Lalai dari Ibadah dan Dzikir

Perempuan al-salfa cenderung jarang beribadah, tidak menjaga salat, dan hatinya jauh dari zikir. Inilah yang menyebabkan hatinya keras dan mudah terjerumus pada dosa.

Allah Swt berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ

Maka celakalah bagi mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah.” (QS. Az-Zumar: 22)

Tips Agar Tidak Menjadi Wanita Salfa

Menjadi perempuan salehah bukan berarti harus sempurna, tetapi terus berusaha memperbaiki diri. Berikut lima tips menjaga diri agar terhindar dari sifat al-salfa:

  1. Perbanyak Syukur dan Kurangi Keluhan

Biasakan diri melihat nikmat kecil dengan hati yang lapang. Rasulullah ﷺ bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ

Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia).” (HR. Muslim)

  1. Jaga Lisan dari Ucapan Kasar

Latih diri untuk berkata baik atau diam, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Taati Suami dalam Kebaikan

Ketaatan kepada suami adalah ibadah jika dilakukan karena Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

Jika seorang wanita melaksanakan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka ia boleh masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad)

  1. Tundukkan Hati dari Kesombongan

Ingat bahwa segala kelebihan berasal dari Allah. Merendahkan hati adalah tanda kemuliaan.

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah kamu berjalan di bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan dapat mencapai setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

  1. Perbanyak Dzikir dan Ibadah

Sifat al-salfa muncul dari hati yang lalai. Maka, sibukkan diri dengan mengingat Allah.

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Sifat al-salfa bukan hanya tentang perilaku buruk seorang perempuan, tetapi lebih dalam dari itu ia adalah cerminan hati yang jauh dari rasa syukur, lembut, dan kasih sayang.

Islam tidak bermaksud merendahkan perempuan, tetapi menegaskan pentingnya peran wanita sebagai penebar ketenangan dalam keluarga dan masyarakat.

Dengan memperbanyak ibadah, menjaga akhlak, serta melatih rasa syukur, seorang wanita bisa menjauh dari sifat al-salfa dan menjadi pribadi yang mulia di sisi Allah. []