Artikel

Seorang Muslim Terhadap Muslim Lainnya Bagaikan Bangunan

Admin
×

Seorang Muslim Terhadap Muslim Lainnya Bagaikan Bangunan

Sebarkan artikel ini
seorang muslim terhadap muslim lainnya bagaikan bangunan
Ilustrasi

Seorang muslim terhadap muslim lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan—tanpa kebersamaan, iman mudah runtuh.

ARROSYID.OR.ID – Rasulullah Saw menyampaikan sebuah gambaran tentang makna persaudaraan yang diibaratkan sebuah bangunan yakni seorang muslim terhadap muslim lainnya bagaikan bangunan.

Sebagaimana hadis riwayat Imam al-Bukhari:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti bangunan, saling menguatkan satu sama lain.

Lalu beliau memperagakannya (وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ) dengan menyilangkan jari-jari tangan beliau.

Inilah simbol tentang kebersamaan, keterikatan, dan tanggung jawab sosial antarsesama. Bahwasanya keimanan bukan hanya urusan vertikal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga memiliki dimensi horizontal yang nyata: saling menopang, saling menjaga, dan saling menguatkan.

Dalam konteks kehidupan sosial, “bergandeng tangan” bukan semata gestur fisik, melainkan sikap batin dan kesediaan untuk hadir bagi yang lain.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa hak seorang muslim atas muslim lainnya tidak berhenti pada salam dan senyum. Di sana ada kewajiban empati, tolong-menolong, menutup aib, serta mendahulukan kepentingan saudaranya ketika mampu.

Menurut al-Ghazali, rusaknya masyarakat bukan semata karena lemahnya ibadah personal, tetapi karena matinya rasa tanggung jawab antarsesama. Dengan kata lain, bangunan umat runtuh bukan karena kurangnya batu, tetapi karena tidak saling mengikat.

Makna ini sejalan dengan hikmah Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Kitab al-Hikam, meski tidak secara literal tidak menyebut istilah “bergandeng tangan”. Ia mengingatkan tentang bahaya ego spiritual: merasa cukup dan selamat sendirian, merasa paling benar tanpa membutuhkan yang lain.

Dalam salah satu hikmahnya, Ibnu ‘Athaillah menyampaikan bahwa tanda kebodohan di jalan spiritual adalah menggantungkan diri sepenuhnya pada amal pribadi, seolah keselamatan bisa diraih tanpa kebersamaan dan tanpa rahmat Allah.

Padahal, jalan menuju-Nya kerap dibukakan melalui kerendahan hati, harapan, dan pelayanan kepada sesama makhluk.

مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ

Di antara tanda seseorang bergantung pada amalnya adalah berkurangnya harapan ketika ia terjatuh dalam kesalahan.”

Inilah pentingnya persaudaraan dengan jari-jari yang saling terkait, mengajarkan bahwa keterkaitan itu harus hidup dalam hati. Tidak cukup mengaku satu jamaah, satu organisasi, atau satu bangsa, jika pada praktiknya masing-masing berjalan sendiri, saling mencurigai, bahkan saling menjatuhkan.

Sesunggunya menahan ego, membuka ruang dialog, dan menyadari bahwa kekuatan umat lahir dari kebersamaan, bukan dari kemenangan satu pihak atas pihak lain.

Terlebih saat ini luka dan bencana ada di sekitar kita, ketidakadilan, maupun konflik internal. Masyarakat tidak membutuhkan pahlawan yang berjalan sendirian, tetapi orang-orang biasa yang mau saling menguatkan. Sebagaimana bangunan tidak berdiri dengan satu tiang, umat pun tidak akan kokoh tanpa solidaritas.

Akhirnya, bergandeng tangan adalah bentuk ibadah sosial. Ia adalah doa yang diwujudkan dalam tindakan, dan iman yang diterjemahkan menjadi kepedulian. Selama jari-jari itu masih mau saling terkait, harapan akan selalu menemukan jalan. [Lukni Maulana]